Perhatikanlah firman Allah ' Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat" dan anda bayangkan gerakan apa yang terbayang
pada pikiran anda? Sungguh anda akan mendapati gambaran gerak yang bergerak
dengan cara lain seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT:
Tidak
mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului
siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin:
40)
Dari ayat ini, anda akan mengetahui, sebagaimana anda lihat, bahwa anda
berada di depan gerakan yang tidak terlalu cepat, juga tidak lambat, yang
disadari oleh perasaan dan imajinasi.
Berikut ini saya ringkaskan pendapat Doktor Muhammad Sa'id Al-Buthi yang
bisa dijadikan referensi untuk penulisan i’jaz lughawi, dan sebelumnya
saya mohon maaf melakukan sedikit perubahan dan pengurangan:
Pada dasarnya, menjangkau kedalaman balaghah pembicaraan pada
kesesuaian lafaz dengan makna dan pada sejauh kemampuan penundukan yang pertama
untuk menjelaskan yang kedua dan untuk menerangkannya pada tempat yang
dikehendaki serta untuk mewujudkan persoalan itu pada posisinya yang sempurna,
merupakan persoalan yang sulit bahkan mustahil dapat dicapai oleh kekuatan
manusia, dan hal demikian dikarenakan dua sebab:
Pertama, sesungguhnya makna dan gambaran itu selamanya
lebih dahulu sampai kepada pikiran dibanding lafaz-lafaz dan batin-batin
ungkapan. Kendatipun lafaz-lafaz tersebut dihiasi, akan tetapi pada umumnya
lafaz-lafaz tersebut tidak mampu mewujudkan hakikat perasaan-perasaan jiwa yang
bergejolak di dalamnya. Bahasa, kendatipun ada macamnya, tetap tidak akan bisa
menyampaikan sesuatu selain sebagian kecil dari perasaan dan
makna.
Misal, perasaan sakit itu merupakan gabungan dari berbagai perasaan,
akan tetapi tidak bisa diungkapkan kecuali dengan satu kata bahasa, sakit. Rasa
gula-gula adalah gabungan dari berbagai rasa, akan tetapi ia hanya bisa
diungkapkan dengan satu kata bahasa, yaitu gula-gula. Begitu juga masalah warna,
bau-bauan dan sebagainya, tidak bisa diungkapkan oleh bahasa, kecuali sebagian
dari padanya. Setiap kali anda mau mendalamkan suatu ungkapan makna temyata
bahasa selalu berbeda dengan perasaan
anda sehingga anda pun tetap beserta perasaan-perasaan jiwa anda yang
membisu.
Kedua, kendatipun seorang pembicara atau seorang penulis adalah
seorang ahli bahasa yang sangat piawai, di hadapan bahasa ini ia laksana
menghadapi samudera luas kata, ungkapan hakikat dan metafora yang beragam, dan
tidak mungkin seluruh ungkapan ini dapat disingkapkan dengan jelas di hadapan
para pengkhayalnya scbagaimana huruf-huruf pada mesin tik tidak mungkin bisa
mengungkapkan seluruh kehendak operatornya. Ia - ketika ingin mengungkapkan
sesuatu - hanya dapat menceburkan sekilas pikirannya ke dalam samudera luas ini
untuk menemukan sesuatu yang mudah ditemukan dan diucapkan, atau yang sudah
biasa ditemukan oleh pena dan pikirannya di dalam samudera tersebut.
Di dalam
bahasa terdapat banyak kata-kata sinonim yang membantunya dalam mengungkapkan
maksudnya, sebagian menempati tempat, sebagian lainnya di dalam ungkapan umum
mengenai maksudnya. Masing-masing kata sinonim tersebut petunjuk dan isyaratnya
khusus. Begitu juga pemberian kandungan maknanya berbeda dengan lainnya.
Perbedaan ini akan nampak jelas apabila seorang penulis atau pembicara mau
menyampaikan gambarannya yang mendalam mengenai perasaan, pikiran dan
pandanganpandangannya kepada seorang pendengar.
Pada kata-kata sinonim tersebut
ternyata anda mendapati perbedaan-perbedaan di antara masing-masing kata
tersebut. Perhatikanlah bunyi, posisi dan petunjuknya. Penggantian sebuah kata
dengan kata yang lain, atau pengubahan susunannya seperti dengan mendahulukan
atau dengan mengakhirkan yang satu dari yang lain, akan merusak seluruh
pembicaraan. Dalam hal ini Al-Baqilani berpendapat: "Dia - masalah memilih
sebuah kata - adalah merupakan persoalan yang lebih pelik dari masalah sihir,
lebih dalam dari lautan dan lebih menakjubkan dari syair.
Betapa tidak, karena
apabila anda mengira meletakkan kata "subuh" pada tempat kata "fajar" itu
memperindah perkataan, sebenarnya itu hanya terjadi pada syair atau sajak.
Karena terkadang masing-masing kata tidak layak diletakkan pada tempat tertentu
karena tidak cocok, dan pada tempat itu lebih tepat diletakkan kata yang lain.
Bahkan kata tersebut sangat kokoh berada di situ, harmonis berdampingan dengan
kata-kata yang bersebelahan dengannya sehingga anda memandangnya berada di
tempat yang paling layak, dan dengan demikian anda memandang kata tersebut
berada di tempat itu dan tidak bisa ditempatkan pada tempat-tempat yang lain.
Dan ketika anda meletakkan kata lain di tempat kata tersebut, maka tampak kata
tersebut berada di tempat yang akan membuatnya tidak betah, menjadi tuduhan
ketidakteraturan bahasa dan tidak akan bisa tetap di tempat
itu."
Dari sini, maka bagi mereka yang menghendaki kedalaman ungkapan dan
benarnya dalam menggambarkan perasaan dan makna .jalannya menjadi sempit,
tampak setiap kata sinonim masing-masing memiliki karakteristik, kewajiban, dan tempat tersendiri sehingga
anda tetap mendapatinya memiliki kekurangan yang tidak ada jalan keluarnya. Baik
hal itu terjadi dengan pemanjangan dan pengulangan yang tidak berfaedah, maupun
diringkaskan sehingga rusak dan terjadi kekosongan padanya, atau pembicaraan
yang disampaikan dengan lafaz-Tafaz dan ungkapan-ungkapan yang merusak dan
mengaburkan kejelasan penggambaran maksudnya bagi pendengamya. Apabila di
hadapannya tampak suatu jalan yang luas dalam mengatasi sebagian makna dan
pengungkapannya, maka di tempat lain ia menemukan jalan sempit untuk
mengungkapkan makna-makna yang lain.
Tegasnya, tidak ada seorang penulis atau
ahli bahasa pun yang tidak memiliki kekurangan ini, kecuali kalam yang
dijaga oleh Allah SWT yang semuanya menjadi tempat melihat fenomena kelemahan
manusia yang diakibatkan oleh keterbatasan kemampuannya. Sumber i’jaz
Al-Quran ini, bagaimanapun, dengan berbagai fenomenanya, tidak bersandar
kepada kelemahan manusia ini.
Apabila anda perhatikan sebuah surat dengan ayat-ayatnya, baik lafaz dan
maknanya, akan anda temukan benar-benar sejalan dan harmonis, tidak akan anda
rasakan bahwa sebuah huruf telah ditambahkan pada sebuah kata dan huruf tersebut
tidak berpengaruh kepada maknanya. Juga mengenai suatu makna, betapa pun pelik
dan halusnya, telah diringkas oleh kata atau ungkapan untuk menyampaikan makna
tersebut.
Seandainya anda masih ragu mengenai hal itu dan anda menghendaki
pertimbangan dan bukti, anda bisa membuka AI-Quran kemudian anda perhatikan
sebuah ayat dan dengan bantuan kamus-kamus Bahasa Arab dan para ahli balaghah
atau bahasa Yang anda ketahui, kemudian anda mengganti sebuah kata yang ada
pada ayat tersebut untuk menunjukkan sebuah makna yang sama.
Sekiranya anda mampu menempatkan sebuah kata yang lebih dapat
mengungkapkan makna yang dikehendaki dan lebih sempurna dalam menjelaskannya,
atau ia sangat cocok untuk ditempatkan sebagai gantinya, tidak kurang dan tidak
lebih, maka ketahuilah bahwa pendapat para ulama mengenai adanya
i'jaz Al-Quran itu menjadi pendapat yang
sia-sia dan tidak bersandar kepada subtansi kebenaran. Adapun apabila anda
berpendapat bahwa sebuah kata lain tidak akan mampu menyamai makna dan
keharmonisan-kata (al-tanasuk al-lafdhi) sebagaimana yang bisa dilakukan
oleh kata-kata Al-Quran; bahwa suatu perubahan dan penggantian terhadap
kalimat-kalimat AI-Quran merusak keindahannya untuk diganti dengan pola kalimat
Lain yang janggal, lemah atau tidak sesuai, maka ketahuilah bahwa hal itu
menjadi bukti yang tidak bisa lagi diragukan bahwa Al-Quran ini bukan hasil
ciptaan dan usaha manusia.
Doktor AI-Buthi selanjutnya menunjukkan sebuah contoh ayat Al-Quran
dengan mengatakan:
"Misalkan kita ambil sebuah ayat yang menyifatkan keagungan kekuasaan
dan kebijakan Allah ketika menciptakan alam dan aturannya,
Ia
singsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan (la jadikan)
matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa
lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 96)
"Cobalah anda perhatikan, kata apa lagi, selain kata "faliq"
untuk mengungkapkan makna tersebut dan dalam menggambarkan maksud dan
mewujudkan suatu pikiran. Cobalah anda cari sebuah kata untuk ditempatkan pada
tempat kata "al-ishbah"yang memberikan petunjuk pada adanya gerakan
"al-harakah ", kemunculan "al-inbitsaq" dan memenuhi makna yang
dikehendaki. Kemudian anda juga boleh mencari sebuah kata yang layak untuk
menggantikan kata "sakanan" yang pada kata tersebut ada suasana tenang
dan lembut disebabkan harakat fathah yang datang berurutan pada kata
tersebut, di samping pada kata tersebut ada sesuatu yangdapat ditimbulkan oleh
suatu gambaran, imajinasi dan jiwa.
Begitu juga, silakan anda cari kata yang
lebih ringkas, lebih mampu mengungkapkan dan menyempurnakan makna dari kata
"husbanan" yang menakjubkan ini. Silakan anda cari dan buka ayat
sekehendak anda, kemudian anda perhatikan dari berbagai seginya, pasti akan anda
temukan bahwa semua bahasa akan tidak mampu menggantikan posisi kata-kata yang
serupa dengan yang digunakan oleh Al-Quran, atau yang lebih baik darinya.
Kalaulah sebuah ayat diubah susunannya, niscaya akan rusaklah keindahannya
dan.akan berkuranglah kecemerlangannya.
Tentunya penjelasan ini saya maksudkan
buat mereka yang mengerti bahasa Arab, yang sudah bisa merasakan rasa bahasa
(dzauq) tersebut dan menguasai kaidah-kaidahnya. Sedangkan bagi mereka
yang tidak memiliki kemampuan demikian, tentunya tidak termasuk. Di sini saya
tidak akan menunjukkan beberapa contoh dari Al-Quran, karena semua yang ada
dalam Al-Quran bisa merupakan contoh. Anda akan dapat membuktikan bahwa semua
posisi kata-kata padanya tidak akan dapat diganti dan diubah.
Tentu lain halnya
bila anda menemukan ungkapan balaghah di luar Al-Quran, siapapun
penulisnya, akan anda temukan berbagai macam cara untuk dapat mengganti dan
memperbaiki kata-kata dan strukturnya. Sebaik apapun suatu ungkapan,ia akan
tetap bisa diganti dan diperbaiki, bisa diupayakan dan dikritik. Inilah dasar
i’jaz Al-Quran, sumber pertama bagi seluruh fenomena i’jaz balaghi.
Karaktetistik susunan kalimat dan keistimewaan balaghah-nyalah
yang selalu menjadi tema utama pembahasan para ulama."
Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa Al-Quran merupakan
mukjizat karena balaghah, susunan kata dan aturannya, kendatipun para
ulama berbeda pendapat mengenai batasan rahasia i’jaz balaghi yang paling
utama.