Minggu, 29 Maret 2015

AL QURAN DAN RAHASIA ANGKA-ANGKA: Macam-macam I'jaz AI-Quran (3/3)

Perhatikanlah firman Allah ' Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat" dan anda bayangkan gerakan apa yang terbayang pada pikiran anda? Sungguh anda akan mendapati gambaran gerak yang bergerak dengan cara lain seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT:



Tidak mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin: 40)

Dari ayat ini, anda akan mengetahui, sebagaimana anda lihat, bahwa anda berada di depan gerakan yang tidak terlalu cepat, juga tidak lambat, yang disadari oleh perasaan dan imajinasi.

Berikut ini saya ringkaskan pendapat Doktor Muhammad Sa'id Al-Buthi yang bisa dijadikan referensi untuk penulisan i’jaz lughawi, dan sebelumnya saya mohon maaf melakukan sedikit perubahan dan pengurangan:

Pada dasarnya, menjangkau kedalaman balaghah pembicaraan pada kesesuaian lafaz dengan makna dan pada sejauh kemampuan penundukan yang pertama untuk menjelaskan yang kedua dan untuk menerangkannya pada tempat yang dikehendaki serta untuk mewujudkan persoalan itu pada posisinya yang sempurna, merupa­kan persoalan yang sulit bahkan mustahil dapat dicapai oleh kekuatan manusia, dan hal demikian dikarenakan dua sebab:

Pertama, sesungguhnya makna dan gambaran itu selamanya lebih dahulu sampai kepada pikiran dibanding lafaz-lafaz dan batin-batin ungkapan. Kendatipun lafaz-lafaz tersebut dihiasi, akan tetapi pada umumnya lafaz-lafaz tersebut tidak mampu mewujudkan hakikat perasaan-perasaan jiwa yang bergejolak di dalamnya. Bahasa, kendatipun ada macamnya, tetap tidak akan bisa menyampaikan sesuatu selain sebagian kecil dari perasaan dan makna. 

Misal, perasaan sakit itu merupakan gabungan dari ber­bagai perasaan, akan tetapi tidak bisa diungkapkan kecuali dengan satu kata bahasa, sakit. Rasa gula-gula adalah gabungan dari berbagai rasa, akan tetapi ia hanya bisa diungkapkan dengan satu kata bahasa, yaitu gula-gula. Begitu juga masalah warna, bau-bauan dan sebagainya, tidak bisa diungkapkan oleh bahasa, kecuali sebagian dari padanya. Setiap kali anda mau mendalamkan suatu ungkapan makna temyata bahasa selalu berbeda dengan perasaan anda sehingga anda pun tetap beserta perasaan-perasaan jiwa anda yang membisu.

Kedua, kendatipun seorang pembicara atau seorang penulis adalah seorang ahli bahasa yang sangat piawai, di hadapan bahasa ini ia laksana menghadapi samudera luas kata, ungkapan hakikat dan metafora yang beragam, dan tidak mungkin seluruh ungkapan ini dapat disingkapkan dengan jelas di hadapan para pengkhayal­nya scbagaimana huruf-huruf pada mesin tik tidak mungkin bisa mengungkapkan seluruh kehendak operatornya. Ia - ketika ingin mengungkapkan sesuatu - hanya dapat menceburkan sekilas pikir­annya ke dalam samudera luas ini untuk menemukan sesuatu yang mudah ditemukan dan diucapkan, atau yang sudah biasa ditemu­kan oleh pena dan pikirannya di dalam samudera tersebut. 

Di dalam bahasa terdapat banyak kata-kata sinonim yang membantu­nya dalam mengungkapkan maksudnya, sebagian menempati tempat, sebagian lainnya di dalam ungkapan umum mengenai maksudnya. Masing-masing kata sinonim tersebut petunjuk dan isyaratnya khusus. Begitu juga pemberian kandungan maknanya berbeda dengan lainnya. Perbedaan ini akan nampak jelas apabila seorang penulis atau pembicara mau menyampaikan gambarannya yang mendalam mengenai perasaan, pikiran dan pandangan­pandangannya kepada seorang pendengar. 

Pada kata-kata sinonim tersebut ternyata anda mendapati perbedaan-perbedaan di antara masing-masing kata tersebut. Perhatikanlah bunyi, posisi dan petunjuknya. Penggantian sebuah kata dengan kata yang lain, atau pengubahan susunannya seperti dengan mendahulukan atau dengan mengakhirkan yang satu dari yang lain, akan merusak seluruh pembicaraan. Dalam hal ini Al-Baqilani berpendapat: "Dia - masalah memilih sebuah kata - adalah merupakan persoal­an yang lebih pelik dari masalah sihir, lebih dalam dari lautan dan lebih menakjubkan dari syair. 

Betapa tidak, karena apabila anda mengira meletakkan kata "subuh" pada tempat kata "fajar" itu memperindah perkataan, sebenarnya itu hanya terjadi pada syair atau sajak. Karena terkadang masing-masing kata tidak layak diletakkan pada tempat tertentu karena tidak cocok, dan pada tempat itu lebih tepat diletakkan kata yang lain. Bahkan kata tersebut sangat kokoh berada di situ, harmonis berdampingan dengan kata-kata yang bersebelahan dengannya sehingga anda memandangnya berada di tempat yang paling layak, dan dengan demikian anda memandang kata tersebut berada di tempat itu dan tidak bisa ditempatkan pada tempat-tempat yang lain. 

 Dan ketika anda meletakkan kata lain di tempat kata tersebut, maka tampak kata tersebut berada di tempat yang akan membuatnya tidak betah, menjadi tuduhan ketidakteraturan bahasa dan tidak akan bisa tetap di tempat itu."


Dari sini, maka bagi mereka yang menghendaki kedalaman ungkapan dan benarnya dalam menggambarkan perasaan dan mak­na .jalannya menjadi sempit, tampak setiap kata sinonim masing­-masing memiliki karakteristik, kewajiban, dan tempat tersendiri sehingga anda tetap mendapatinya memiliki kekurangan yang tidak ada jalan keluarnya. Baik hal itu terjadi dengan pemanjangan dan pengulangan yang tidak berfaedah, maupun diringkaskan sehingga rusak dan terjadi kekosongan padanya, atau pembicaraan yang disampaikan dengan lafaz-Tafaz dan ungkapan-ungkapan yang merusak dan mengaburkan kejelasan penggambaran maksudnya bagi pendengamya. Apabila di hadapannya tampak suatu jalan yang luas dalam mengatasi sebagian makna dan pengungkapannya, maka di tempat lain ia menemukan jalan sempit untuk mengungkapkan makna-makna yang lain. 

Tegasnya, tidak ada seorang penulis atau ahli bahasa pun yang tidak memiliki kekurangan ini, kecuali kalam yang dijaga oleh Allah SWT yang semuanya menjadi tempat melihat fenomena kelemahan manusia yang diakibatkan oleh keterbatasan kemampuannya. Sumber i’jaz Al-Quran ini, bagaimanapun, dengan berbagai fenomenanya, tidak bersandar kepada kelemahan manusia ini.

Apabila anda perhatikan sebuah surat dengan ayat-ayatnya, baik lafaz dan maknanya, akan anda temukan benar-benar sejalan dan harmonis, tidak akan anda rasakan bahwa sebuah huruf telah ditambahkan pada sebuah kata dan huruf tersebut tidak ber­pengaruh kepada maknanya. Juga mengenai suatu makna, betapa pun pelik dan halusnya, telah diringkas oleh kata atau ungkapan untuk menyampaikan makna tersebut.

Seandainya anda masih ragu mengenai hal itu dan anda meng­hendaki pertimbangan dan bukti, anda bisa membuka AI-Quran kemudian anda perhatikan sebuah ayat dan dengan bantuan kamus-kamus Bahasa Arab dan para ahli balaghah atau bahasa Yang anda ketahui, kemudian anda mengganti sebuah kata yang ada pada ayat tersebut untuk menunjukkan sebuah makna yang sama. 

Sekiranya anda mampu menempatkan sebuah kata yang lebih dapat mengungkapkan makna yang dikehendaki dan lebih sempurna dalam menjelaskannya, atau ia sangat cocok untuk ditempatkan sebagai gantinya, tidak kurang dan tidak lebih, maka ketahuilah bahwa pendapat para ulama mengenai adanya i'jaz Al-Quran itu menjadi pendapat yang sia-sia dan tidak bersandar kepada subtansi kebenaran. Adapun apabila anda berpendapat bahwa sebuah kata lain tidak akan mampu menyamai makna dan keharmonisan-kata (al-tanasuk al-lafdhi) sebagaimana yang bisa dilakukan oleh kata-kata Al-Quran; bahwa suatu perubahan dan penggantian terhadap kalimat-kalimat AI-Quran merusak keindah­annya untuk diganti dengan pola kalimat Lain yang janggal, lemah atau tidak sesuai, maka ketahuilah bahwa hal itu menjadi bukti yang tidak bisa lagi diragukan bahwa Al-Quran ini bukan hasil ciptaan dan usaha manusia.

Doktor AI-Buthi selanjutnya menunjukkan sebuah contoh ayat Al-Quran dengan mengatakan:
"Misalkan kita ambil sebuah ayat yang menyifatkan keagungan kekuasaan dan kebijakan Allah ketika menciptakan alam dan aturannya,


Ia singsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan (la jadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 96)

"Cobalah anda perhatikan, kata apa lagi, selain kata "faliq" untuk mengungkapkan makna tersebut dan dalam menggambarkan maksud dan mewujudkan suatu pikiran. Cobalah anda cari sebuah kata untuk ditempatkan pada tempat kata "al-ishbah"yang mem­berikan petunjuk pada adanya gerakan "al-harakah ", kemunculan "al-inbitsaq" dan memenuhi makna yang dikehendaki. Kemudian anda juga boleh mencari sebuah kata yang layak untuk menggantikan kata "sakanan" yang pada kata tersebut ada suasana tenang dan lembut disebabkan harakat fathah yang datang berurutan pada kata tersebut, di samping pada kata tersebut ada sesuatu yangdapat ditimbulkan oleh suatu gambaran, imajinasi dan jiwa. 

Begitu juga, silakan anda cari kata yang lebih ringkas, lebih mampu meng­ungkapkan dan menyempurnakan makna dari kata "husbanan" yang menakjubkan ini. Silakan anda cari dan buka ayat sekehendak anda, kemudian anda perhatikan dari berbagai seginya, pasti akan anda temukan bahwa semua bahasa akan tidak mampu menggantikan posisi kata-kata yang serupa dengan yang digunakan oleh Al-Quran, atau yang lebih baik darinya. Kalaulah sebuah ayat diubah susunannya, niscaya akan rusaklah keindahannya dan.akan berkuranglah kecemerlangannya. 

Tentunya penjelasan ini saya maksudkan buat mereka yang mengerti bahasa Arab, yang sudah bisa merasakan rasa bahasa (dzauq) tersebut dan menguasai kaidah-kaidahnya. Sedangkan bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan demikian, tentunya tidak termasuk. Di sini saya tidak akan menunjukkan beberapa contoh dari Al-Quran, karena semua yang ada dalam Al-Quran bisa merupakan contoh. Anda akan dapat membuktikan bahwa semua posisi kata-kata padanya tidak akan dapat diganti dan diubah. 

Tentu lain halnya bila anda menemukan ungkapan balaghah di luar Al-Quran, siapapun penulisnya, akan anda temukan berbagai macam cara untuk dapat mengganti dan memperbaiki kata-kata dan strukturnya. Sebaik apapun suatu ungkapan,ia akan tetap bisa diganti dan diperbaiki, bisa diupayakan dan dikritik. Inilah dasar i’jaz Al-Quran, sumber pertama bagi seluruh fenomena i’jaz balaghi. Karaktetistik susunan kalimat dan keistimewaan balaghah-nyalah yang selalu menjadi tema utama pembahasan para ulama."

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa Al-Quran merupakan mukjizat karena balaghah, susunan kata dan aturan­nya, kendatipun para ulama berbeda pendapat mengenai batasan rahasia i’jaz balaghi yang paling utama.

Al QURAN DAN RAHASIA ANGKA-ANGKA: Macam-macam I'jaz AI-Quran (2/3)

Allah berfirman yang artinya:

Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami di sekitar jagat raya dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Fushshilat: 53)


Ayat ini sendiri, pada hakikatnya, merupakan mukjizat. Ia menegaskan keberlanjutan munculnya ayat-ayat bagi manusia dan ayat-ayat yang muncul di jagat raya (afaq), pada diri kita, dan pada tujuan masing-masing. Ini semua merupakan bukti atas kebenaran risalah Islam dan Al-Quran sebagai kebenaran yang datangnya dari Allah SWT.

Dengan demikian, kendatipun dengan keterpecahan umat Islam ke dalam berbagai firqah (kelompok) dan dihadapkannya kepada tipu daya musuh serta dengan tidak adanya alat-alat cetak dan perekam yang canggih sebagaimana yang bisa kita saksikan pada saat ini, Al-Quran tetap terjaga dari tahrif dan tabdil. Adalah merupakan kehendak Allah bahwa seluruh kebatilan yang akan merusak AI-Quran harus musnah. Al-Quran adalah Kitab yang tidak akan dikenai kebatilan baik dari Al-Quran itu sendiri maupun dari luar Al-Quran. Atas dasar itu semua, Al-Quran adalah sebuah Kitab yang tidak pemah mengalami tahrif dan kehilangan, sebagaimana yang terjadi pada kitab-kitab samawi yang lain. Allah berfirman:

                                                                                        
Bahkan ia merupakan ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu ..... (AI-Ankabut: 49)

Oleh karena itu pula maka Allah SWT telah menjaga AI­Quran, di samping juga telah menjaga pendahulu-pendahulunya. Sehingga Ia menjaga Bahasa Arab dari kepunahan yang merupakan satu-satunya bahasa di dunia yang tidak mengalami perubahan, pergantian, kepunahan dan keterbelakangan sebagaimana yang dialami oleh bahasa-bahasa lain di dunia. Dengan asumsi bahwa bahasa adalah seperti wujud yang hidup dan berkembang secara bertahap dan berjalan seperti berkembangnya manusia, dimulai masa kanak-kanak, berkembang sampai masa remaja dan masa tua untuk selanjutnya lanjut usia dan mati. 

 Berdasarkan teori ini, maka perjalanan akhir setiap bahasa di dunia adalah kematian. Ini merupakan persoalan yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau kita membaca sejarah bahasa di dunia, kita tidak akan mendapatkan satu bahasa klasik pun pemah digunakan oleh manusia yang masih hidup sebagaimana asalnya. Namun demikian teori ini tidak ber­laku bagi bahasa Arab. Apa rahasianya? Bukankah bahasa Arab sama seperti bahasa yang lain? 

Pada dasarnya memang bahasa Arab tidak berbeda dengan bahasa-bahasa lain di dunia, hanya saja rahasia ketidakrelevanan teori diatasterhadap bahasa Arab adalah bukan terletak pada bahasa itu send'tri, melainkan pada mukjizat besar, yaitu Al-Quran Al-Karim yang diturunkan dengan bahasa tersebut, sehingga bahasa tersebut harus terjaga demi keteqagaan AI-Quran; karena Al-Quran menggunakan "bahasa Arab yang terang" (AI-Syu'ara: 195).

Dengan demikian tegaklah mukjizat besar ini dan terombak­lah adat kebiasaan punahnya, bahasa dengan tidak punahnya bahasa Arab, yaitu untuk menjaga Al-Quran. Sepanjang sejarah didunia tidak ada satu nash pun yang terjaga dari tahrif, pengurang­an dan penambahan seperti Al-Quran. Ini merupakan persoalan yang merombak adat kebiasaan, di samping sebagai mukjizat yang mendorong jiwa untuk membenarkannya.

Ringkasnya, apabila AI-Quran merupakan kebenaran mutlak, realitasnya menegaskan hal demikian dan ia sendiri merupakan mukjizat, maka AI-Quran merupakan ayat yang jelas dan petunjuk bahwa mukjizat ini dari sisi Allah SWT. Betapa kebenaran dan mukjizat itu semerbak baunya ketika Allah SWT berfirman:


Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. (Al-Insyirah: 4)

Ayat tersebut ditujukan kepada Rasulullah saw., seorang manusia di antara sekian banyak manusia di sepanjang sejarah yang di­istimewakan oleh wahyu. Ia diseru oleh Al-'Aliyy Al-A'la SWT bahwa Ia akan meninggikan sebutannya. Apakah anda pernah mendapati seorang manusia di antara para tiran, raja, ulama, ahli pikir, baik yang berbudi maupun yang jahat, yang namanya di­tinggikan seperti nama Rasulullah saw.? Apakah anda pernah men­dapati atau mendengar seseorang yang namanya dipanggil pada setiap hari dan di setiap penjuru alam, serta tidak disebut namanya kecuali diikuti dengan mendoakan kesejahteraan dan keselamatan­nya, selain Muhammad bin Abdillah saw.? Baik mereka itu Nabi atau Rasul, jin atau manusia, raja atau makhluk Allah SWT lain­nya. Allah berfirman;


Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. (AI-Kautsar: 1)

Allah juga berfirman:


Sesungguhnya orang-arang yang membencimu dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)

Apakah anda pernah melihat satu keturunan yang lebih banyak dari keturunan Rasulullah saw.? Pernah saya diberitahu oleh sebagian orang bahwa turunan keluarga suci ('ithrah thahirah) itu sudah mencapai 15 juta orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Ini merupakan kebenaran mengenai banyaknya turunan Rasulullah saw. Pertanyaannya sekarang, di mana keturunan para pembenci Rasulullah saw.? Apakah engkau dapati seseorang dari mereka atau engkau dengar suara mereka? (Maryam: 98).

Kalimat-kalimat pada AI-Quran adalah kalimat-kalimat yang menakjubkan, yang berbeda sekali dengan kalimat-kalimat di luar Al-Quran. Ia mampu mengeluarkan suatu yang abstrak kepada fenomena yang dapat dirasakan sehingga di dalamnya dapat dirasakan ruh dinamika. Adapun huruf tidak lain hanyalah simbol makna-makna, sementara lafaz memiliki petunjuk-petunjuk etimologis yang berkaitan dengan makna-makna tersebut. 

Menuangkan makna-makna yang abstrak tersebut kepada batin seseorang dan kepada hal-hal yang bisa dirasakan (al-mahsusat) yang ber­gerak di dalam imajinasi dan perasaan, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ia diumpamakan jarum suntik yang ditusukkan ke dalam tubuh untuk mengobati penyakit-penyakitnya, untuk meng­angkat spiritualitas-spiritualitasnya, mendekatkannya kepada Allah SWT, untuk merajut sebuah kisah dari lataz-lafaznya yang kaku sehingga temuan-temuan dan pasal-pasalnya berjalan di atas pang­gung yang menambah dinamika kehidupan yang dapat dirasakan. Termasuk kesulitan seseorang ialah menundukkan seluruh kata dalam suatu bahasa, untuk setiap makna dan imajinasi yang di­gambarkannya. 

 Sementara Al-Quran tidak berbicara dengan sebuah kata kecuali sejalan dengan makna yang dikehendaki dan pada tingkat kedalaman paling tinggi. Ketika anda merenungkan sebuah ayat yang akan menjelaskan kepada anda cara penciptaan alam, misalnya dengan dasar sistem yang teratur dan pengaturan yang tidak bertentangan satu sama lain dan tidak rusak, maka anda akan mendapati ayat tersebut menjelaskan makna tersebut dengan fenomena gerakan yang dapat dirasakan, yang berputar di depan kedua mata anda sendiri; seakan-akan anda sedang berada di hadapan laboratorium dengan bergerak sangat cepat pada sistem yang berkelanjutan:


Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah mencipta­kan langit dan bumi selama enam masa, lalu Ia bersemayam di atas 'Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan pula oleh-Nya) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan seru sekalian alam. (Al-A'raf: 54)


AL QURAN DAN RAHASIA ANGKA-ANGKA: Macam-macam I'jaz Al Quran (1/3)



I’jaz AI-Quran terdiri dari beberapa macam. Sebagian di antaranya telah kami jelaskan. Dengan kehendak Allah, pada masa akan datang mudah-mudahan akan terus terungkap i'jaz-i'jaz yang lain, karena keajaiban-keajaiban Al-Quran itu tidak akan pernah habis. Di antara macam i’jaz Al-Quran yang telah kami jelaskan ialah i’jaz balaghi, i’jaz mengenai berita gaib, ijaz tasyri'i (per­undang-undangan) dan i’jaz 'ilmi. I’jaz dengan berbagai macamnya, seperti i’jaz al-thibbi (kedokteran), i’jaz al-falaki (astronomi), i’jaz al-jughrafi (geografi), i’jaz al-thabi'i (fisika), i’jaz adadi (jumlah), i’jaz i'lami (informasi), dan i'jaz-i’jaz lainnya. Macam­macam i'jaz tersebut telah kami bahas pada buku Al-I’jaz Al­-Quraniy fi Wujuhih Al-Muktasyifah (Macam-macam I'jaz Al-Quran yang Terungkap). Adapun buku yang ada ditangan anda adalah hanya merupakan salah satu bagian dari buku tersebut. Atas dasar usulan sebagian pembaca, karena pentingnya persoalan ini, maka pembahasan mengenainya saya pisahkan dalam buku yang ada pada tangan pembaca ini dengan beberapa tambahan agar bisa lebih menambah manfaatnya.
Salah satu i’jaz Al-Quran adalah perhatiannya yang besar terhadap setiap hubungan yang terjadi di dalamnya. Tidak ada satu Kitab Sammawi pun, lebih-lebih Kitab Ardhi, yang memberikan perhatian begitu rupa seperti yang dilakukan oleh AI-Quran. Sejak Al-Quran mulai diturunkan, ayat-ayat dan surat-suratnya sudah dihafalkan oleh banyak kaum Muslimin. Begitu juga tafsir-tafsir­nya, penafsiran-penafsiran Rasulullah mengenainya, dan pendapat­pendapat para ulama tafsir sehingga dengan berlalunya waktu telah lahir thabaqat al-mufassirin (tingkatan-tingkatan para mufassir), dan pada setiap tingkatan tersebut telah banyak buku tafsir yang ditulis. Banyaknya para mufassir dan besarnya perhatian mereka tidak lain adalah karena besarnya peran Al-Quran. Al-Quran tidak hanya mereka tafsirkan, akan tetapi juga dari AI-Quran telah muncul berbagai ilmu yang mereka tulis. Di antaranya studi tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, asbab al-nuzul, pem­bagian ayat kepada makiah dan madaniah, ilmu tajwid, ilmu qiraat, i’jaz AI-Quran, i'rab Al-Quran, ilmu rasm AI-Quran dan buku-buku yang ditulis mengenai penghitungan ayat-ayat Al­Quran, pembagiannya kepada juz, hizb, anshaf al-ahzab dan rub' di samping karya-karya mengenai nasikh-mansukh, linguistik Al­Quran, balaghah, nudzhum (struktur bahasa Al-Quran), bayan (kejelasan) dan ma'ani (makna-makna) kata dan kosa katanya, bahasa kabilah, keutamaan surat-suratnya, pahala membaca Al­Quran, etika tilawah, sampai-sampai perhatian terhadap Al-Quran pun telah mendorong perhatian terhadap penghitungan jumlah kata-kata, lafaz-lafaz, huruf-huruf dan hubungannya antara kata, huruf, ayat dan surat di dalamnya.
Dengan kebetulan, di perpustakaan 'Arif Hikmat, di Madinah AI-Munawarah, saya mendapatkan sebuah makhtuthat (buku yang masih ditulis tangan) yang ditulis kira-kira pada abad ketiga hijriah, yaitu pada masa kekuasaan Abdul Malik bin Marwan. Di dalam makhthuthat tersebut terdapat kutipan dari banyak orang mengenai bagaimana cara mereka menghitung huruf-huruf AI­Quran dengan menggunakan biji gandum. Penghitungan-penghitungan tersebut telah mereka susun dalam sebuah risalah kecil yang kebetulan saya temukan. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai jumlah ayat, huruf dan jumlah masing-masing huruf dalam Al-Quran dan seterusnya. Di bawah ini adalah salah satu kutipan dari makhthuthat tersebut:
Diriwayatkan oleh sebagian mereka bahwasanya ia ditanya: "Bagaimana kalian menghitung huruf-huruf AI-Quran?" Dia menjawab: "Dengan gandum." Diriwayatkan juga bahwa mereka menghitungnya selama empat bulan. Menurut penduduk Madinah pertengahan Al-Quran itu pada surat AI-Kahfi, ketika Allah berfirman: maa lam tastati', alaihi shabra (apa yang telah membuat engkau tidak sabar itu) (Al-Kahfi: 78). Al-Hajjaj bertanya kepada mereka: "Beritahu aku huruf AI-Quran mana yang merupakan tengah-tengah Al-Quran?" Lantas mereka menghitung dan sepakat bahwa huruf tengah-tengahnya pada surat Al-Kahfi, yaitu pada firman Allah: wa alyatalaththaf. Huruf "ta" pada setengah pertama Al-Quran dan huruf "lam" pada setengah terakhir AI-Quran. Wallahu a'lam bi al-shawab .. . Inilah hitungan surat, kata dan huruf Al-Quran.           
Sudahkah pembaca yang budiman memberikan perhatian sejauh itu? Coba renungkan, adakah sebuah Kitab yang mendapat­kan perhatian sedemikian atau minimal mendekatinya? Inilah Al­Quran, yang pada masa modern ini, telah bisa dihitung dengan bantuan alat hitung elektronik sehingga telah melahirkan banyak karya dalam hal i’jaz 'Adadi Al-Quran. Perhatian yang demikian besar terhadap kalamullah ini menjadi bukti i’jaz dalam menjaga Kitab yang mulia ini, yang Allah telah menjanjikan untuk menjaganya.



Sesungguhnya telah Kami turunkan AI-Quran dan sesungguhnya Kami akan menjaganya. (Al-Hijr: 9)

Allah berfirman:


Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagaan-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar, jika kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang mulsa terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seru sekalian alam. (AI-Waqiah: 75-80)

Allah berfirman:


Bahkan yang didustakan mereka ini ialah Al-Quran yang mulia, yang tersimpan di Lauh Al-Mahfudzh. (AI-Buruj: 21-22)

Saya ingin tegaskan kepada pembaca bahwa AI-Quran dijaga bukan karena ia merupakan Kitab Allah. Karena apabila itu yang menjadi sebab, maka seluruh kitab samawi pun seharusnya dijaga pula dari tahrif (distorsi) dan tabdiI (pengubahan). Sebab keterjagaan Al-Quran adalah kembali kepada persoalan-persoalan berikut:

Pertama, Allah SWT berjanji dan menjamin akan menjaganya.

Kedua, karena risalah Islam merupakan risalah terakhir sehingga perundang-undangannya harus abaditidak boleh diubah, terdistorsi dan diganti. Karena sekiranya pengubahan, pendistorsian dan penggantian itu boleh dilakukan, maka manusia memerlukan sebuah kitab dan seorang rasul yang baru, padahal AI-Quran akan tetap sampai hari kiamat dan Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan rasul.


Bukanlah Muhammad itu ayah seseorang di antara lelaki kalian, melainkan ia rasulullah dan penutup para nabi. (Al-Ahzab: 40)

Dengan demikian, maka Al-Quran wajib terjaga dari tahrif. Sekiranya kita asumsikan bahwa ayat yang menjanjikan akan menjaga Al-Quran, yaitu: "Sesungguhnya telah Kami turunkan AI-Quran dan sesungguhnya Kami akan menjaganya", tidak ada, maka akal sendiri akan menghukumi tentang wajibnya keterjagaan AI-Quran dari tahrif dan tabdil.

Ketiga, karena AI-Quran merupakan penutup kitab samawi, dan bahwa mukjizat para nabi terdahulu pun tetap dinukil, maka hal itu mengharuskan adanya mukjizat abadi yang membenarkan pengakuan penutup para nabi dan kebenaran para nabi dan risalah-­risalah samawi sebelumnya. Allah berfirman:


Dan kitab yang Kami wahyukan kepadamu ialah kitab yang benar, yang membenarkan apa yang (disebutkan di dalam kitab-kitab) sebelumnya; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Melihat hamba-hamba-Nya. (Fathir: 31)

Keempat, Allah SWT berjanji bahwa ayat-ayat-Nya tidak akan terputus, melainkan akan berlanjut. Allah berfirman:



Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami di sekitar jagat raya dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Fushshilat: 53)

AL QURAN DAN RAHASIA ANGKA-ANGKA: I'JAZ AL-QURAN


Menurut bahasa kata "mu’jizah" berasal dari kata "'ajz" (lemah), kebalikan dari kata "qudrah" (kuasa). Pada dasarnya Mu’jiz itu adalah Allah SWT., yang menyebabkan selain-Nya lemah. Pemberi kekuasaan kepada selain-Nya juga adalah Zat Allah SWT., karena Ia sebagai Penguasa mereka. Sebagai bentuk mubalaghah (penegasan) kebenaran berita, mengenai betapa lemahnya orang-orang yang didatangi Rasul untuk menentang mu’jiz tersebut, maka huruf "ta" marbuthah ditambahkan kepada kata "mu’'jiz" sehingga menjadi "mu’jizah ". Bentuk mubalaghah ini juga terjadi, misalnya pada kata, "'allamah", "nassabah", dan "rawiyah".

Menurut para Mutakallimln (teolog), mukjizat ialah muncul­nya sesuatu hal yang berbeda dengan adat kebiasaan yang terjadi di dunia (dar al-taklif) untuk menunjukkan kebenaran kenabian (nubuwwah) para Nabi.

Al-Thusi mendefinisikan mukjizat dengan terjadinya sesuatu yang tidak biasa terjadi, atau terjadinya sesuatu yang menggugur­kan sesuatu yang biasa terjadi yang disertai dengan perombakan terhadap adat kehiasaan, dan hal itu sesuai dengan tuntutan,

AI-Quran ialah mukjizat abadi Nabi Muhammad saw., yang dengannya seluruh manusia dan jin ditantang untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran tersebut, sebuah atau sepuluh surat yang sama dengan surat yang ada di dalamnya. Para ahli balaghah dan para ahli bahasa Arab di antara mereka ternyata tidak mampu membuat sebuah surat pun yang serupa dengan surat yang ada di dalam Al-Quran sehingga akhirnya mereka menggunakan kekuatan dengan berupaya memerangi Rasulullah, menawarkan jabatan dan harta kepada beliau, bukan membuat sehuah surat yang serupa dengan AI-Quran. Allah SWT. di dalam Kitab-Nya menjelaskan bahwa AI-Quran merupakan mukjizat:



Dan orang-orang kafir Makkah mengatakan: “Mengapa kepadanya tidak diturunkan mukjizat-mukjizat dari Tuhan­nya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat ter­sebut terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata."Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) dan ia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al-Quran itu terdapat rahmat yang besar dan peringatan bagi orang-orang yang ber­iman. (Al-Ankabut: 50-51)

Dengan penjelasan ini, Allah SWT. menegaskan bahwa Al-Quran merupakan ayat yang terang dan mukjizat yang cukup bagi manusia.

Jumhur kaum Muslimin berpendapat bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu ’jiz bi dzatih). Maksudnya, bahwa Al­Quran dengan seluruh yang ada di dalamnya, termasuk struktur kalimat; balaghah, bayan (penjelasan), perundang-undangan (tasyri'), berita-berita gaib dan seluruh persoalan lain yang merupa­kan mukjizat, telah menyebabkan seluruh manusia tidak mampu membuat yang serupa dengannya.

Abu Ishaq Ibrahim Al-Nidzam, seorang Mu'tazilah, dan Al­-Syarif Al-Murtadha, seorang Syi'ah Ja'fari berpendapat bahwa Al-Quran itu mu’jiz bi al-sharfah. Yang dimaksud dengan sharfah adalah bahwa Allah SWT. memalingkan hamba-hamba-Nya dengan menarik kehendak mereka, dan dengan mengelukan lidah-lidah mereka untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran.

Sebenarnya, Al-Quran merupakan mukjizat (mu’jiz bi dzatih), adalah disebabkan ketinggian balaghah, struktur bahasa, bayan, dan perundang-undangan (tasyri')-nya yang adil dan relevan bagi manusia, potensi-potensinya, tujuan penciptaannya yang harmonis dengan hukum alam yang umum, dan juga berita-berita gaibnya yang manusia tidak akan mampu memberitakan hal demikian. 

Al-Baqilani mengatakan: "Seandainya Al-Quran bukan merupakan mukjizat berdasarkan yang telah kami sifatkan dari segi struktur bahasanya yang mumtani' (tidak mungkin tertandingi), maka kendatipun Al-Quran disusun dengan struktur bahasa yang sangat tinggi dan dengan kefasihan yang sangat tinggi pula, tentu kemukjizatannya akan lebih hebat lagi seandainya mereka dipalingkan untuk membuat yang serupa dengannya, seandainya mereka dicegah untuk menentangnya, serta seandainya anggapan-anggapan mereka dibelokkan dari padanya. 

 Tentu pula hal itu menunjukkan tidak perlunya AI-Quran diturunkan dengan struktur bahasa yang indah, fasih dan menakjubkan. Sebab, seandainya mereka dipalingkan dari anggapan-anggapannya, niscaya orang-orang jahiliah sebelum mereka tidak perlu dipalingkan dari kefasihan, balaghah, keindahan struktur bahasa dan ke­ajaiban susunannya, karena mereka tidak ditantang oleh Al-Quran untuk melakukan yang serupa, di samping hujjah-nya pun tidak selayaknya diungkapkan mereka. Oleh karena itu, tidak pernah dijumpai pembicaraan seperti itu sebelumnya. 

Hal itu merupakan bukti bahwa apa yang diklaim oleh seseorang yang meyakini adanya sharfah, merupakan suatu kebatilan yang nyata, yang akan mem­batalkan pendapat mereka mengenai adanya sharfah tersebut. Seandainya penentangan itu mungkin, maka kalam bukan merupakan mukjizat. Mukjizatnya justru pada pelarangan, sehingga kalam itu sendiri tidak lebih istimewa dari yang lain. Maka tidak mengherankan apabila dikatakan: ‘Sesungguhnya semua orang akan mampu membuat yang serupa dengan Al-Quran, hanya saja mereka terlambat karena mereka tidak mengetahui bentuk susunan (seperti AI-Quran - penj.), seandainya mereka telah mengetahuinya, pasti mereka akan mampu melakukannya'."

Al-Khithabi menolak pendapat bahwa Al-Quran merupakan mukjizat bi al-sharfah. Beliau mengatakan: "Al-sharfah, merupakan hal yang tidak begitu berbeda dengan i’jaz. Hanya saja, petunjuk ayat membuktikan sebaliknya, yaitu firman Allah SWT.:


Katakanlah: "Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekali­pun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. " (Al-Isra: 88)

Dalam hal demikian, ia menunjuk kepada persoalan yang caranya bersifat takalluf (dibuat-buat) dan diupayakan, dengan cara yang matang dan dilakukan bersama-sama. Dan yang dimaksud dengan al-sharfah seperti yang telah mereka sifatkan tidaklah sejalan dengan sifat ini sehingga hal ini menunjukkan bahwa yang di­maksud adalah sifat yang lain. Wallahu a'lam."

Muhammad bin Amru Al-Razi, dalam tafsimya Al-Kabir, menegaskan bahwa kedua pendapat tersebut - pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat, dan pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran mu’jiz bi alsharfah - satu sama lain menjadi pendahulu di dalam memberikan bukti.

Beliau mengatakan: "Al-Quran, baik ia sendiri merupakan mukjizat atau bukan, adalah mukjizat. Apabila ia merupakan mukjizat maka ia sudah sampai kepada yang dimaksud. Apabila ia bukan merupakan mukjizat, bahkan banyak orang yang mampu untuk menentangnya, dan untuk melakukan hal demikian tidak dipalingkan dan dilarang, maka atas dasar ini tindakan menandingi­nya merupakan sesuatu keharusan dan kelaziman. Dengan ke­tidakmampuan menandingi tersebut, dengan disertai kemungkin­an-kemungkinan, jelas merupakan pembatal terhadap kebiasaan sehingga ia merupakan mukjizat."

Sedangkan penulis .Al-Mizan bi Tafsir Al-Quran berpendapat bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu’jiz bi dzatih). Beliau mengatakan: "Firman Allah SWT.: 'Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al­Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan mendapat­kan pertentangan yang banyak di dalamnya,' jelas merupakan bukti bahwa AI-Quran tidak mungkin dapat ditandingi oleh manu­sia dengan mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya. Wujud Al-Quran itu sendiri yang pada lafaz dan maknanya tidak terjadi pertentangan, itu saja, tidak mungkin dapat ditandingi oleh makhluk untuk membuat kalam yang tidak dikenai pertentangan di dalamnya. Bukan karena Allah memalingkan mereka sehingga mereka tidak bisa menandinginya dengan menunjukkan per­tentangan di dalamnya, dan pendapat mereka yang mengatakan bahwa kemukjizatan   AI-Quran  itu bi al-sharfah (pemalingan) merupakan pendapat yang tidak bisa dijadikan sandaran."

Al-Rummani Ali bin Isa, seorang Mu'tazilah, di dalam buku­nya Al-Nukat fi /’jaz Al-Quran, juga berpendapat mengenai adanya i’jaz balaghi, juga berpendapat bahwa kemukjizatannya bi al­ sharfah. Pendapat ini diikuti oleh Al-Nadhdham AI-Mu'tazili, Hisyam Al-Quthi, dan Ibad bin Sulaiman. AI-Qadhi Abdut Jabbar Al-Mu'tazili berpendapat bahwa i jaz itu pada kefasihan Al-Quran. Adapun al-sharfah (pemalingan) merupakan hujjah yang lazim bagi yang berpendapat demikian.

Yang dimaksud dengan al-sharfah oleh Mu'tazilah ialah baitwa Allah SWT. memalingkan kehendak mereka untuk me­nandingi AI-Quran.

Meieka berpendapat: "Sekiranya Allah SWT. mengangkat Nabi pada masa kenabian (nubuwwah), dan mukjizatnya terjadi ketika menggerakkan tangannya, melangkahkan kakinya, atau sewaktu duduk di antara kaumnya, kemudian dikatakan kepadanya: 'Apa bukti kebenaranmu?' Beliau menjawab: 'Bukti kebenar­anku ialah bisa menggerakkan tanganku atau menjulurkan kakiku, dan kalian tidak mungkin dapat melakukan seperti yang telah kulakukan.' Andaikan seluruh kaum badannya dalam keadaan sehat, sedikit pun anggota badan mereka tidak cacat. Selanjutnya beliau menggerakkan tangannya atau menjulurkan kakinya, kemudian mereka mulai mau melakukan seperti yang beliau laku­kan, akan tetapi mereka tidak bisa melakukannya. Semua itu merupakan bukti atas kebenarannya."

Sebenarnya argumentasi mereka yang berpendapat bahwa Al-Quran merupakan rnukjizat bi al-sharfah (pemalingan) seperti itu, pada dasarnya adalah mukjizat dengan halangan yang bersifat eksternal, bukan dari AI-Quran itu sendiri. Halangan eksternal ini bukanlah pendahulu bagi halangan sejati (al-imtina' al-dzati). Bagi mereka yang berpendapat demikian, suatu kalam yang paling tinggi dan yang sebaliknya - dalam balaghah - adalah sama, selama halangan tersebut bersifat eksternal. Selanjutnya, sekiranya yang memalingkan dari luar Al-Quran sendiri, maka orang Arab, seperti Musailamah dan yang lainnya, yang berusaha menandingi Al-Quran, akan gagal dan binasa.

Perlu dijelaskan bahwa antara mukjizat dan mumtani' ada perbedaan. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, mukjizat adalah terjadinya sesuatu yang tidak biasa terjadi atau terjadinya sesuatu yang menggugurkan sesuatu yang biasa terjadi yang disertai dengan perombakan terhadap adat kebiasaan, dan hal itu sesuai dengan tuntutan. Adapun mumtani' ialah sesuatu yang pada hakikatnya ia sendiri bersifat mustahil terjadi, yaitu bahwa ketika akal menggambarkan suatu subtansi mumtani', pada dasarnya, subtansi tersebut mustahil terwujud. Contoh, menggambarkan wujud lingkaran yang diameternya lebih besar dari kelilingnya. 

Pada dasarnya, ketika akal menggambarkan subtansi tersebut, ia menghukumi bahwa hal itu tidak akan terwujud, seperti mustahil­nya bahwa bagian itu lebih besar dari keseluruhan, dan mustahil­nya dua hal yang kontradiksi bisa bersatu. Contoh-contoh subtansi di atas, pada dasarnya ia sendiri bersifat mumtani' (mustahil ter­wujud). Actapun mukjizat, tidak bersifat mumtani', seperti membekunya air laut sebagai benteng kepada Musa a.s., atau tidak membakarnya api kepada Ibrahim a.s. yang menurut kebiasaan api itu membakar. Semua ini termasuk hukum-hukum alam (al­sunan al-kauniyyah) yang telah diciptakan Allah SWT., hanya saja hukum-hukum alam tersebut tidak mungkin bisa diubah selain oleh Penciptanya, yaitu Allah SWT, karena seluruh manusia tidak akan mampu mengubahnya.


 
Sungguh kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah (hukum alam). (AI-Ahzab: 62)

Apabila seorang Nabi diminta untuk mendatangkan suatu bukti, maka dengan izin Allah SWT. dia akan mampu mengubah sunnatullah tersebut, karena pada dasarnya sunnatullah itu bisa berubah, hanya saja bagi manusia ia bersifat mumtani' (mustahil berubah). Dengan kata lain, mukjizat itu bersifat mumtani' bagi manusia, akan tetapi dengan izin Allah SWT. bersifat mungkin bagi Nabi. Sedangkan mumtani' sendiri pada hakikatnya bersifat mumtani', dan kekuasaan Allah tidak berkaitan dengan al-mun­tani'at (hal-hal yang bersifat mumtani'). Al-Quran sendiri merupa­kan mukjizat. Artinya, bahwa setiap makhluk mustahil akan mampu membuat vang serupa dengannya. Sedangkan hubungan­nya dengan Allah SWT tentu Ia akan mampu membuat yang serupa dengannya, karena Ia sendiri Mahakuasa atas segala sesuatu.


Rabu, 25 Maret 2015

SAHABAT RASULULLAH SAW: Sa'id bin Amir -radhiallaahu 'anhu-

Sa'id bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan dunia, dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya. (Ahli sejarah). 

Adalah seorang anak muda Sa'id bin Amir Al-Jumahi salah satu dari beribu-ribu orang yang tertarik untuk pergi menuju daerah Tan'im di luar kota Makkah, dalam rangka menghadiri panggilan pembesar-pembesar Quraisy, untuk menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin 'Adiy, salah seorang sahabat Muhammad yang diculik oleh mereka. 

Kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah, ia mendapatkan kedudukan yang lebih dari pada orang-orang, sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan pembesar-pembesar Quraisy, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang-orang yang mempunyai wibawa lainnya. 

Dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas tawanan Quraisy yang terikat dengan tali, suara gemuruh perempuan, anak-anak dan remaja senantiasa mendorong tawanan itu menuju arena kematian, karena kaum Quraisy ingin membalas Muhammad atas kematian orang-orangnya ketika perang Badar dengan cara membunuhnya. 

Ketika rombongan yang garang ini dengan tawanannya, sampai di tempat yang telah disediakan, anak muda Sa'id bin Amir Al-Jumahi berdiri tegak memandangi Khubaib yang sedang diarak menuju kayu penyaliban, dan ia mendengar suaranya yang teguh dan tenang di antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak, Khubaib berkata, "Izinkan saya untuk shalat dua raka'at sebelum pembunuhanku ini jika kalian berkenan." 

Kemudian ia memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan shalat dua raka'at, alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya itu... 

Kemudia ia melihat, Khubaib seandainya menghadap pembesar-pembesar kaum dan berkata, "Demi Allah! Jjika kalian tidak menyangka bahwa saya memperpanjang shalat karena takut mati, tentu saya telah memperbanyak shalat..." 

Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, mereka memotong-motong Khubaib dalam keadaan hidup, mereka memotongnya sepotong demi sepotong, sambil berkata, "Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu dan kamu selamat?", maka ia menjawab- sementara darah mengucur dari badannya, "Demi Allah! Saya tidak suka bersenang-senang dan berkumpul bersama istri dan anak sedangkan Muhammad tertusuk duri" . Maka orang-orang melambaikan tangannya ke atas, dan teriakan mereka semakin keras, "Bunuh!-bunuh...!." 

Kemudian Sa'id bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas kayu salib, dan berkata, "Ya Allah ya Tuhan kami! Hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu persatu serta janganlah Engkau tinggalkan satupun dari mereka", kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi bekas tebasan pedang dan tusukan tombak. 

Orang-orang Quraisy telah kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena banyak kejadian-kejadian setelahnya. 
Akan tetapi anak muda Sa'id bin Amir Al-Jumahi tidak bisa menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata. 

Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya terbuka, Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan shalat dua raka'at dengan tenang di depan kayu salib, dan ia mendengar rintihan suaranya di telinganya, ketika Khubaib berdo'a untuk kebinasaan orang-orang Quraisy, maka ia takut kalau ia tersambar petir atau ketiban batu dari langit. 

Khubaib telah mengajari Sa'id sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia mengajarinya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah aqidah dan jihad di jalan aqidah itu hingga akhir hayat. 
Ia mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan kemu'jizatan. 
Dan ia mengajarinya sesuatu yang lain, yaitu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang dicintai oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang mendapat mandat dari langit. 

Semenjak itu Allah membukakan dada Sa'id bin Amir untuk Islam, lalu ia berdiri di hadapan orang banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala dan patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah. 

Sa'id bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah , dan ia ikut serta dalam perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya. 

Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, -saat itu beliau sudah meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah Abu Bakar dan Umar, dan hidup bagaikan contoh satu-satunya bagi orang mu'min yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya. 

Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Sa'id bin Amir, keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan memperhatikan pendapatnya. 

Pada awal kekhilafahan Umar, ia menemuinya dan berkata, "Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia, dan janganlah kamu takut kepada manusia dalam urusan Allah, dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan perbuatan... 

Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan urusannya kepadamu, baik orang-orang muslim yang jauh atau yang dekat, cintailah mereka sebagaimana kamu mencintai dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka sesuatu yang kamu benci bagi dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban menjadi kebenaran dan janganlah kamu takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah. 

Maka Umar berkata, Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai Sa'id?!." 
Ia menjawab, "Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang-orang yang Allah serahkan urusan umat Muhammad kepadanya, dan tidak ada seorangpun perantara antara ia dan Allah." 

Setelah itu Umar mengajak Sa'id untuk membantunya dan berkata, "Wahai Sa'id; Kami menugaskan kamu sebagai gubernur atas penduduk Himsh." maka ia berkata, Hai Umar!: Aku ingatkan dirimu terhadap Allah; Janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah. Maka Umar marah dan berkata, 

Celaka kalian, kalian menaruh urusan ini di atas pundakku, lalu kalian berlepas diri dariku!!. Demi Allah aku tidak akan melepasmu." Kemudian ia mengangkatnya menjadi gubernur di Himsh, dan beliau berkata, "Kami akan memberi kamu gaji." Sa'id berkata, "Untuk apa gaji itu wahai Amirul mu'minin? karena pemberian untukku dari baitul mal telah melebihi kebutuhanku." Kemudian ia berangkat ke Himsh. 

Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul mu'minin, maka beliau berkata kepada mereka, "Tuliskan nama-nama orang fakir kalian, supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka." Maka mereka menyodorkan selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, fulan dan Sa'id bin Amir. Umar bertanya: Siapakah Sa'id bin Amir ini?."

Mereka menjawab, "Gubernur kami." Umar berkata, "Gubernurmu fakir?" Mereka berkata, "Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api." Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar dan menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya Amirul mu'minin memberi anda harta ini, supaya anda dapat menutup kebutuhan anda." 

Saat para utusan itu mendatangi Sa'id dengan membawa kantong, lalu Sa'id membukanya ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu ia meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata: (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada-Nya)- seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya, hingga keluarlah istrinya dengan wajah kebingungan dan berkata, "Ada apa wahai Sa'id?!, Apakah Amirul mu'minin meninggal dunia?.

Ia berkata, "Bahkan lebih besar dari itu." Istrinya berkata, "Apakah orang-orang muslim dalam bahaya?" Ia menjawab, "Bahkan lebih besar dari itu." Istrinya berkata, "Apa yang lebih besar dari itu?" Ia menjawab, "Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku." Istrinya berkata, "Bebaskanlah dirimu darinya." -saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang-uang dinar itu sama sekali-. Ia berkata, "Apakah kamu mau membantu aku untuk itu?" Istrinya menjawab, "Ya!" Lalu ia mengambil uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong kecil kemudian ia membagikannya kepada orang-orang muslim yang fakir. 

Tidak lama kemudian Umar bin al-Khattab ? datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan, dan ketika beliau singgah di Himsh -waktu itu disebut dengan 'Al-Kuwaifah' yaitu bentuk kecil dari kalimat Al-Kufah-, karena memang Himsh menyerupainya baik dalam bentuknya atau banyaknya keluhan dari penduduk akan pejabat-pejabat dan penguasa-penguasanya. Ketika beliau singgah di negeri itu, penduduknya menyambut dan menyalaminya, maka beliau berkata kepada mereka, "Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?" 

Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih besar dari yang lainnya. Umar berkata, Maka aku kumpulkan dia dengan mereka, dan aku berdo'a kepada Allah supaya Dia tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya, karena aku sebenarnya menaruh kepercayaan yang sangat besar kepadanya. Dan ketika mereka dan gubernurnya telah berkumpul di hadapanku, aku berkata, "Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?" 

Mereka menjawab, "Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang." Maka aku berkata, "Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa'id?." Maka ia terdiam sebentar, kemudian berkata, "Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu, namun kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu, maka aku setiap pagi membuat adonan, kemudian aku tunggu sebentar sehingga adonan itu menjadi mengembang, kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku berwudlu dan keluar menemui orang-orang." Umar berkata, "Lalu aku berkata kepada mereka, 

"Apa lagi yang anda keluhkan darinya?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya beliau tidak menerima tamu pada malam hari." Aku berkata, "Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa'id?" Ia menjawab, "Sesungguhnya Demi Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga, aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla." Aku berkata, "Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?" 

Mereka menjawab, "Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan." Aku berkata, "Dan apa ini wahai Sa'id?" Ia menjawab, "Aku tidak mempunyai pembantu wahai Amirul mu'minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari." 

Kemudian aku berkata: "Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?" Mereka menjawab, "Beliau sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk dimajlisnya." Lalu aku berkata, "Dan apa ini wahai Sa'id?" Maka ia menjawab, "Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik, dan aku melihat orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil berkata, "Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?" maka ia berkata,

"Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad tertusuk duri...Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku... maka akupun jatuh pingsan." 

Seketika itu Umar berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya." Kemudian beliau memberikan seribu dinar kepadanya, dan ketika istrinya melihatnya ia berkata kepadanya, "Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari pekerjaan berat untukmu, belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu untuk kami", Maka ia berkata kepada istrinya,

 "Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?" Istrinya menjawab, "Apa itu?" Ia berkata, "Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya." Istrinya berkata, "Apa itu?", Ia menjawab, "Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik." Istrinya berkata, "Benar, dan semoga kamu dibalas dengan kebaikan." 

Maka sebelum ia meninggalkan tempat duduknya dinar-dinar itu telah berada dalam kantong-kantong kecil, dan ia berkata kepada salah seorang keluarganya, "Berikanlah ini kepada jandanya fulan. dan kepada anak-anak yatimnya fulan, dan kepada orang-orang miskin keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan". 


Mudah-mudahan Allah meridhai Sa'id bin Amir al-Jumahi, karena ia adalah termasuk orang-orang yang mendahulukan(orang lain) atas dirinya walaupun dirinya sangat membutuhkan.(1) 

SAHABAT RASULULLAH: 'Abdullah Bin Hudzafah as-Sahmiy -radhiallaahu 'anhu-

Dipaksa Mencium Kepala Kaisar, Asalkan Tawanan Kaum Muslimin Bebas 


"Sudah sepatutnya setiap Muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy dan saya adalah orang pertama yang melakukannya" (Umar bin al-Kaththab)

Pemeran cerita kita kali ini adalah salah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy.
Boleh saja sejarah tidak mengangkat pembicaraan tentang tokoh ini sebagaimana telah berjuta-juta orang arab sebelumnya yang tidak pernah diangkat. Akan tetapi Islam yang agung telah menakdirkan Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy bertemu dengan para pembesar dunia pada zaman itu; Kisra Persia dan Kaisar Romawi. Kisah ini kemudian diabadikan oleh sejarah sepanjang zaman.
Kisahnya bersama Kisra raja persia terjadi pada tahun ke-enam Hijriyyah ketika Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam berkeinginan mengirimkan sekelompok para sahabatnya untuk mengantarkan surat kepada raja-raja 'Ajam (non Arab). Surat tersebut berisi ajakan beliau kepada mereka untuk memeluk Islam. Dan Rasul Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sangat menyadari bahwa tugas ini amat berbahaya.

Para utusan itu akan pergi ke negeri nun jauh yang belum pernah menjalin perjanjian sebelumnya. Mereka tidak mengerti bahasanya dan tidak mengetahui tabi'at-tabi'at rajanya. Kemudian mereka akan mengajak raja-raja itu untuk meninggalkan agamanya dan berpisah dengan kebesaran dan kerajaannya serta memeluk agama suatu kaum yang beberapa di antara mereka adalah penduduk wilayah yang tunduk terhadap kekuasaan mereka.

Ini adalah perjalanan yang berbahaya. Yang pergi dalam perjalanan itu akan dianggap hilang dan yang bisa kembali pulang seolah-olah dilahirkan kembali.
Untuk itu Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya dan berpidato di hadapan mereka. Setelah memuji dan menyanjung Allah, bersyahadat lalu berkata:

(Amma ba'du, Sesungguhnya aku ingin mengutus sebagian kamu kepada raja-raja 'Ajam, maka janganlah kamu membantah kepadaku sebagaimana bani Israil membantah kepada Isa bin Maryam).

Maka para sahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam berkata, "Wahai Rasulullah, kami siap melaksanakan apa yang engkau kehendaki, maka utuslah kami dengan sesuka hati engkau."
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam memilih enam orang sahabatnya untuk menyampaikan surat-suratnya kepada raja-raja Arab dan 'Ajam, dan di antara ke-enam orang tersebut adalah 'Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy, ia dipilih untuk menyampaikan surat Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam kepada Kisra Persia.

'Abdullah bin Hudzafah menyiapkan kendaraannya dan berpamitan dengan istri dan anaknya, lalu bergerak melaksanakan tugasnya dengan turun dan naik gunung, sendirian tidak ada yang menemaninya kecuali Allah, hingga ia sampai ke negeri Persia, kemudian ia meminta izin masuk untuk menemui sang kisra dan menyerahkan surat kepadanya.

Sang kisrapun memerintahkan agar istananya dihiasi dan memanggil pembesar-pembesar Persia untuk hadir di kerajaannya, Kemudian 'Abdullah bin Hudzafah dipersilahkan masuk.
Abdullah bin Hudzafah menemui penguasa Persia itu dengan pakaian tipis yang membalut tubuhnya yang dirangkap jubahnya yang kasar, tampak padanya kesederhanaan orang Arab.
Namun ia sangat percaya diri, berdiri tegap, nampak pada penampilannya kewibawaan Islam dan bercokol dalam hatinya kebesaran Iman.

Ketika Kisra melihatnya sedang menghadapnya, ia menunjuk salah seorang ajudannya untuk mengambil surat dari tangannya, maka Abdullah berkata, "Tidak!, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam menyuruhku supaya aku menyerahkan surat ini langsung ke tanganmu dan aku tidak akan mengingkari perintah Rasulullah."
Lalu Kisra berkata, "Biarkan ia mendekat kepadaku." dan setelah ia mendekat kepadanya, Kisra mengambil surat dari tangannya.
Kemudian Kisra memanggil juru tulis arab dari negeri penduduk Hirah dan menyuruhnya supaya membuka surat dan membacanya di hadapannya. Dan ternyata di dalamnya,

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad utusan Allah kepada Kisra pembesar Persia, kesejahteraanlah bagi orang yang mengikuti petunjuk..."

Ketika Kisra mendengar sepotong surat ini, maka menyalalah kemarahan di dadanya, mukanya merah dan otot lehernya melembung besar, karena Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam memulai dengan menyebutkan…?, lalu ia menarik surat dari tangan juru tulisnya dan merobek-robeknya tanpa mengetahui apa yang tertulis dalam surat itu, lalu ia berteriak: Apakah ia menulis surat kepadaku dengan seperti ini, sedangkan ia adalah hambaku!!"

Lalu ia menyuruh supaya Abdullah bin Hudzafah dikeluarkan dari singgasananya, lalu ia dikeluarkan.
Abdullah bin Hudzafah keluar dari kerajaan Kisra, dan ia tidak tahu apa yang akan ditakdirkan oleh Allah kepadanya...dibunuh atau dibiarkan pergi?.
Akan tetapi ia masih bisa berkata, "Demi Allah aku tidak perduli terhadap keadaanku setelah aku menyampaikan surat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam ." dan ia menaiki kendaraannya dan pergi.

Dan ketika Kisra telah reda dari marah, ia menyuruh supaya Abdullah dipanggil masuk kembali kepadanya, namun Abdullah tidak ditemukan... lalu mereka mencarinya akan tetapi mereka tidak menemukan jejaknya... Hingga mereka mencari di jalan yang menuju ke negeri arab dan mereka menemukannya namun ia telah jauh.

Dan ketika Abdullah menemui Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam ia menceritakan apa yang terjadi tentang Kisra dan surat yang dirobek olehnya, Rasul langsung berkata, "Mudah-mudahan Allah merobek-robek kerajaan-nya."

Adapun Kisra, ia telah menulis surat kepada Badzan wakilnya yang ditugaskan di Yaman, "Utuslah dua orang prajuritmu yang kuat-kuat kepada orang yang muncul di Hijaz ini, dan perintahkanlah keduanya agar membawanya kepadaku...", maka Badzan mengutus dua orang terbaiknya kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, ia juga membekali surat untuk diberikan kepadanya, di dalam surat itu ia menyuruhnya supaya beliau berangkat bersama kedua orang itu untuk menemui Kisra dengan segera...Dan ia meminta dari kedua orang itu untuk mendengar khabar Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan memata-matainya, dan menyampaikan berita yang diperolehnya kepadanya.

Kedua orang itu segera berangkat sehingga mereka sampai ke Thaif dan menjumpai para pedagang Quraisy, lalu keduanya bertanya kepada mereka tentang Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, maka mereka menjawab, "Ia berada di Yatsrib!."

Kemudian para pedagang itu bergegas menuju ke Mekkah dengan riang untuk menyampaikan khabar gembira, mereka mengucapkan selamat bagi orang-orang Quraisy sambil berkata, "Bersenang-senanglah kalian, karena Kisra telah menangani Muhammad dan kalian bakal aman dari kejahatannya."

Adapun kedua orang tadi, mereka telah pergi menuju kota Madinah dan bertemu Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, dan memberikan surat Badzan kepadanya, dan keduanya berkata kepada beliau, Sesungguhnya raja diraja Kisra telah menulis surat kepada raja kami Badzan supaya ia mengutus orang kepadamu, orang itu akan membawamu kepadanya... Dan kami telah mendatangimu supaya kamu pergi bersama kami kepadanya, jika kamu menuruti kami, kami akan memberi tahu Kisra tentang sesuatu yang berguna bagi kamu dan ia akan menahan siksaannya darimu, dan jika kamu tidak mau, maka ia adalah orang yang kamu telah tahu keganasannya, kekerasannya dan kemampuannya untuk membinasakanmu dan kaummu. Maka Rasul Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam tersenyum dan berkata kepada keduanya, "Hari ini, kembalilah kamu berdua ke tempat tendamu dan datanglah kamu berdua besok ke sini."

Dan keesokan harinya keduanya datang kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan mereka berkata kepadanya, "Apakah kamu telah siap untuk berangkat bersama kami kepada Kisra?" Beliau berkata kepada mereka berdua, "Kamu berdua tidak akan menemukan Kisra setelah hari ini... Allah telah membinasakannya, anaknya (Syirwaih) telah membunuhnya pada malam ini... di bulan ini..." Maka keduanya mencermati wajah Nabi dan mulai nampaklah keheranan di wajah mereka, dan keduanya berkata, "Apakah anda sadar apa yang anda katakan? bolehkah kami menulis hal itu kepada Badzan? Beliau menjawab, "Ya, dan katakan kepadanya Bahwa agamaku akan sampai ke seluruh kekuasaan Kisra, dan jika kamu masuk Islam aku akan memberikan apa yang kamu kuasai, dan aku jadikan kamu raja atas kaummu."

Kedua orang itu keluar dari Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan pulang menemui Badzan dan menyampaikan khabar; maka Badzan berkata, "Jika apa yang dikatakan Muhammad benar, maka ia adalah seorang nabi, dan jika tidak benar, maka kita akan pikirkan lagi nanti."

Tidak lama kemudian datanglah surat Syirwaih kepada Badzan, ia berkata dalam surat itu, "Amma ba'du, aku telah membunuh Kisra, dan aku tidak membunuhnya kecuali karena balas dendam untuk kaumku, ia telah banyak membunuh pembesar-pembesar mereka, memboyong perempuan-perempuan mereka dan menjarah harta mereka, jika suratku ini telah datang kepadamu, maka jadilah kamu dan kaummu orang-orang yang taat kepadaku."

Ketika Badzan membaca surat Syirwaih, ia tidak melanjutkan bacaannya, akan tetapi ia melemparkannya ke sampingnya dan ia menyatakan masuk Islam, dan begitu pula orang-orangnya dari Persia yang ada di Yaman semua masuk Islam.
Ini adalah kisah pertemuan Abdullah bin Hudzafah dan Kisra raja Persia.

Lalu bagaimana pertemuannya dengan Kaisar pembesar Romawi?

Pertemuannya dengan Kaisar adalah terjadi pada zaman khalifah Umar bin al-Khaththab radliyallâhu 'anhu pada saat itu ia mempunyai kisah yang sangat indah...

Pada tahun kesembilan hijriyah Umar bin al-Khaththab mengutus pasukan untuk memerangi Romawi, dan diantaranya Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy. Kaisar pembesar Romawi sendiri telah mendengar khabar tentang pasukan-pasukan kaum muslimin yang mempunyai kebenaran iman, kekokohan aqidah dan keteguhan jiwa dalam menegakkan jalan Allah dan Rasul-Nya.

Maka Kaisar menyuruh pasukannya bahwa jika mereka mendapatkan tawanan dari kaum muslimin, supaya mereka tidak membunuhnya dan membawa kepadanya dalam keadaan hidup... Dan Allah memang telah berkehendak bahwa Abdullah bin Hudzafah as-Sahmiy jatuh tertawan oleh pasukan Romawi, lalu mereka membawanya kepada rajanya, dan mereka berkata, "Dia termasuk sahabat Muhammad yang lebih dahulu memeluk agamanya, dan ia telah menjadi tawanan kami, lalu kami hadirkan ia kepada engkau."
Raja Romawi menatap Abdullah bin Hudzafah agak lama dan berkata, "Aku akan menawari kamu sesuatu!"

Ia berkata, "Apa itu?"
Maka ia berkata, "Aku tawari kamu untuk masuk Nasrani...jika kamu menerima aku akan membebaskan kamu, dan aku beri kamu kedudukan. Maka tawanan itu berkata dengan lantang dan yakin, Tidak!...Kematian adalah seribu kali lebih aku cintai daripada apa yang kamu tawarkan kepadaku itu!"
Maka Kaisar berkata, "Sungguh aku melihatmu sebagai orang pemberani...Jika kamu menerima tawaranku, aku beri kamu jabatan dan aku bagi kerajaanku kepadamu.

Maka tawanan yang terikat itu tersenyum dan berkata, "Demi Allah jika kamu memberiku semua apa yang kamu miliki dan semua apa yang dimiliki orang-orang arab supaya aku meninggalkan agama Muhammad dalam sekejap mata, aku tidak akan melakukannya!"

Ia berkata, "Kalau begitu aku akan membunuhmu."

Ia berkata, "Terserah kamu." Kemudian ia menyalibnya, dan ia berkata kepada para ahli panahnya dengan bahasa romawi "Panahlah dekat tangannya, sambil ia menawarinya untuk masuk nasrani, dan Abdullah menolaknya.

Lalu ia berkata, "Panahlah dekat kakinya." Dan ia menawarkan kepadanya supaya ia meninggalkan agama Muhammad, tetapi ia menolak.

Setelah itu Kaisar menyuruh supaya mereka berhenti menyakitinya, dan supaya menurunkannya dari kayu salib, kemudian ia meminta supaya didatangkannya panci besar, lalu panci itu diisi dengan minyak dan diletakkan di atas api sehingga minyak itu mendidih, lalu kaisar meminta supaya didatangkan dua orang tawanan dari kaum muslimin, lalu ia menyuruh supaya salah seorang dari keduanya diceburkan di dalamnya, maka bertebaranlah dagingnya dan tulangnya nampak menganga.

Lalu Kaisar menengok ke arah Abdullah bin Hudzafah dan mengajaknya untuk memeluk agama Nasrani, akan tetapi tawaran itu ditolaknya dengan amat keras, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Dan setelah Kaisar telah putus asa, ia menyuruh supaya Abdullah diceburkan di panci yang dipakai untuk menceburkan kedua sahabatnya. Dan ketika ia telah didekatkan dengan panci itu, keluarlah air matanya, maka berkatalah orang-orang Kaisar kepada rajanya, "Ia menangis!"

Maka Kaisar menyangka bahwa ia telah jera dan berkata, Kembalikan ia kepadaku." Ketika ia telah sampai di depannya, Kaisar menawarinya untuk memeluk agama Nasrani dan ia menolak, maka Kaisar berkata, "Sialan kamu, lalu apa yang membuatmu menangis?"

Ia menjawab, "Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata kepada diriku, 'Kamu diceburkan di panci ini sekarang lalu jiwamu melayang, dan sesunggungnya aku menginginkan kalau aku mempunyai nyawa sejumlah rambutku lalu diceburkan semuanya di panci ini di dalam jalan Allah.'"

Maka berkatalah Kaisar durjana itu, "Maukah kamu mencium kepalaku dan aku membebaskanmu?"
Maka Abdullah berkata, beserta semua tawanan muslim juga?"

Kaisar berkata, "Dan semua tawanan muslim juga." Abdullah berkata, Aku bergumam dalam hati, Aku mencium kepala salah satu dari musuh Allah lalu ia membebaskanku dan tawanan muslim semuanya, tidak masalah bagiku."

Lalu ia mendekatinya dan mencium kepalanya, maka raja Romawi itu menyuruh supaya tawanan-tawanan muslim dikumpulkan dan diserahkannya kepadanya, maka diserahkanlah mereka kepadanya.

Abdullah bin Hudzafah datang kepada Umar bin al-Khaththab radliyallâhu 'anhu dan menceritakan kisahnya, maka sangat bergembiralah al-Faruq, dan ketika beliau melihat tawanan-tawanan, beliau berkata, "Setiap orang islam selayaknya mencium kepala Abdullah bin Hudzafah... dan aku orang pertama yang melakukannya!" Lalu beliau berdiri dan mencium kepalanya....*


* Untuk bahan tambahan tentang biografi Abdullah bin Hudzafah, silahkan baca: 
1. al-Ishabah fi tamyizi ash-shahabah oleh Ibnu Hajar, 2:287-288 
2. as-sirah an-nabawiyyah oleh Ibnu Hisyam, tahqiq as-saqa 
3. Hayatus al-Shahabah oleh Muhammad Yusuf al-Kandahlawiy, jilid 4 
4. Tahdzibu at-Tahdzib, 5:185 
5. Imta'ul asma', 1:308,444 
6. Husnu ash-Sahabah, Hal.503 
7. Muhbar, Hal.77 
8. Tarikh Islam oleh adz-Dzahabiy, 2:88