Ibnu Hajar al-‘Asqalani beliau adalah al-Imam al-‘Allamah al-Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar al-Kinani al-‘Asqalani asy -Syafi’i al-Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar dan gelarnya al-Hafizh. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah (Jalur Gaza).
Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H. Beliau tumbuh disana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun. Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al-Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al-Mishri. Imam Ibnu Hajar ‘Atsqalani Rahimahullah wafat pada tahun 852 H. Karya-Karya Al Hafizh Ibnu Hajar, diantara karya beliau yang terkenal ialah:
• Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari
• Bulughul Maram min Adillatil Ahkam
• Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah
• Tahdzibut Tahdzib
• Ad-Durarul Kaminah
• Taghliqut Ta’liq
• Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.
Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits secara riwayat dan dirayah (kajian). Sanjungan para ulama terhadapnya al-Hafizh as-Sakhawi berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”
Al-Iraqi berkata, “Ia adalah syaikh yang alim yang sempurna, mulia,seorang muhaddits (ahli hadist) yang banyak memberikan manfaat yang agung, seorang al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadhl bin asy-Syaikh, al-Imam al-Alim al-Auhad al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan syaikh-syaikh yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai al-Muwafaqat dan al-‘Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dha’if, yang banyak menemui para ahli hadits dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek. Dan masih banyak lagi ulama yang memuji dia dengan kepandaian Ibnu Hajar.
Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H. Beliau tumbuh disana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun. Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al-Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al-Mishri. Imam Ibnu Hajar ‘Atsqalani Rahimahullah wafat pada tahun 852 H. Karya-Karya Al Hafizh Ibnu Hajar, diantara karya beliau yang terkenal ialah:
• Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari
• Bulughul Maram min Adillatil Ahkam
• Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah
• Tahdzibut Tahdzib
• Ad-Durarul Kaminah
• Taghliqut Ta’liq
• Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.
Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits secara riwayat dan dirayah (kajian). Sanjungan para ulama terhadapnya al-Hafizh as-Sakhawi berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”
Al-Iraqi berkata, “Ia adalah syaikh yang alim yang sempurna, mulia,seorang muhaddits (ahli hadist) yang banyak memberikan manfaat yang agung, seorang al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadhl bin asy-Syaikh, al-Imam al-Alim al-Auhad al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan syaikh-syaikh yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai al-Muwafaqat dan al-‘Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dha’if, yang banyak menemui para ahli hadits dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek. Dan masih banyak lagi ulama yang memuji dia dengan kepandaian Ibnu Hajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar